Menakar Potensi Nyata Pengampunan Pajak

Selasa 21 Jun 2016 11:20Administratordibaca 269 kaliSemua Kategori

bisnis 058

Langkah pemerintah untuk menjalankan program Tax Amnesty atau yang lebih dikenal dengan program Pengampunan Pajak tampaknya sudah di depan mata karena saat ini pemerintah sudah mengajukan RUU Pengampunan Pajak dan tinggal menunggu pengesahan DPR.

Kalau tidak ada aral melintang, RUU tersebut semestinya dapat disahkan di akhir bulan ini. Artinya program pengampunan pajak tersebut dapat dijalankan antara Juli-Desember tahun ini.


Di beberapa kesempatan, baik Kementerian Keuangan maupun Bank Indonesia sudah mengungkapkan jumlah potensial dana dari program pengampunan pajak (baik yand akan deklarasi maupun direpatriasi) yang bergerak diantara Rp560 triliun (versi Bank Indonesia) dan Rp3.500-Rp4.000 triliun menurut versi Kementerian Keuangan.


Kita tidak perlu mempersoalkan perbedaan angka tersebut karena memang dihitung dengan menggunakan definisi dan sumber data yang berbeda. Satu hal yang pasti dari jumlah tersebut potensi penerimaan pajak pemerintah akan berada diantara Rp53,4 triliun dan Rp180 triliun.


Tulisan ini tidak akan mempertanyakan efektivitas program pengampunan pajak ini sebagai salah satu upaya pemerintah untuk menaikkan penerimaan negara, namun hanya mencoba menghitung kembali secara kasar potensi penerimaan berdasarkan pengamatan penulis berkecimpung di institusi keuangan. Selain itu penulis mencoba melihat faktor apa saja yang dapat mendorong orang untuk tertarik mengikuti program pengampunan pajak ini.


Dari hasil diskusi dengan beberapa Private Bankers di Singapura, dana orang Indonesia yang berada di negeri Singa ini dikatakan kurang dari Rp2.700 triliun atau sekitar US0 miliar.


Tentu saja angka ini sangat mudah diperdebatkan karena tidak didapatkan dari penelitian yang komprehensif, hanya dari sekedar berbincang-bincang dengan bankers di Singapura. OK, katakanlah kita percaya dengan angka ini, maka jumlah yang akan dideklarasi dan atau repatriasi diperkirakan hanya sejumlah Rp1.000 triliun. Dan dengan tax rate rata-rata 4% akan didapatkan penerimaan pajak sekitar Rp40 triliun.


Ini artinya, laporan hasil deklarasi dapat saja besar tapi dana segar yang masuk dalam bentuk repatriasi akan jauh lebih kecil, yang menurut perkiraan penulis hanya sepertiganya. Hal ini karena pada dasarnya komposisi aset orang Indonesia di Singapura secara sederhana terbagi menjadi 6 jenis yaitu (1) dana tunai, termasuk deposito, (2) obligasi dan reksadana obligasi, (3) saham dan reksadana saham, (4) investasi yang berupa kepemilikan saham di suatu perusahaan, (5) real estate, dan (6) other investment seperti perhiasan, lukisan, dan universal life insurance.


Tentu saja ke enam jenis aset tersebut dapat di deklarasi, namun apakah semuanya dapat di repatriasi atau dengan kata lain akan ada dana baru yang akan masuk ke Indonesia? Mari kita bedah satu persatu.


Untuk jenis aset no 1 sampai 3 memang dapat mendorong masuknya dana baru ke Indonesia. Sementara untuk jenis aset no 5 dan 6 tentu saja hanya akan dideklarasi. Namun untuk aset yang berupa investasi dalam bentuk kepemilikan saham di suatu perusahaan (jenis aset no 4), perlu ditelusuri lebih lanjut apakah perusahaan tersebut sudah melakukan investasi di Indonesia atau tidak.


Penulis menekankan hal ini karena bila dilihat dari data Penanaman Modal Asing (PMA) dari tahun 2010 sampai Maret 2016, maka PMA terbesar berasal dari Singapura dimana akumulai PMA periode 2010-2015 mencapai US miliar atau sekitar 23% dari total PMA yang masuk.


Apabila ditambah dengan negara-negara yang selama ini dikenal sebagai tax heaven seperti British Virgin Island, Cayman Island, Luxembourg, Seychelles, Mauritius maka dalam rentang waktu yan sama, akumulasi jumlah investasi negara-negara tersebut mencapai US miliar atau sekitar 28% dari total PMA.


Pertanyaan selanjutnya apakah jumlah tersebut semuanya berasal dari perusahaan asli Singapura seperti Temasek atau sebenarnya merupakan dana milik orang Indonesia. Ini menjadi menarik karena kalau sebagian besar PMA dari Singapura itu merupakan dana orang Indonesia. Ini berarti dari harta orang Indonesia yang berjumlah US0 miliar di Singapura, sejatinya sebagian sudah berada di Indonesia. Sehingga jumlah dana yang dapat direpatriasi akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.     


Masalah kedua yang menarik untuk dilihat adalah besaran tax rate  yang diberikan dalam program pengampunan pajak ini. Meskipun besarannya masih menjadi perdebatan di DPR, namun pemerintah sendiri sudah mengajukan usulan yaitu antara 4%-6% untuk deklarasi dan antara 2%-4% untuk repatriasi.


Penetapan besaran pajak ini menjadi penting dan harus ditetapkan secara berhati-hati karena kalau terlalu tinggi akan mengurangi minat orang untuk mengikuti program ini, sebaliknya bila terlalu rendah maka pemerintah akan kehilangan potensi mendapatkan penerimaan pajak.

Karena sejatinya, program pengampunan pajak ini bukan semata-mata untuk meningkatkan penghasilan pajak dalam jangka pendek (yang artinya harus dikenakan tax rate yang tinggi), tetapi juga merupakan cara untuk meningkatkan basis pajak dalam periode menengah dan panjang.

Artinya program pengampunan pajak ini tidak saja mempunyai tujuan jangka pendek namun juga mempunyai tujuan jangka menengah dan panjang. Karena itulah maka pemerintah harus dapat mendorong upaya deklarasi sebesar-besarnya dengan tax rate yang menarik karena pada dasarnya pemegang dana tersebut adalah orang-orang yang pandai menghitung untung dan rugi.


Terkait dengan pengusaha yang selalu jeli dalam menghitung untung dan rugi, apabila mereka merasa dan melihat bahwa tax rate yang dikenakan terlalu tinggi maka mereka akan berusaha mencari cara untuk tidak melakukan deklarasi.


Apalagi sekarang ini sudah banyak ide-ide yang diusulkan oleh konsultan maupun banker asing mengenai bagaimana caranya untuk bersembunyi dan tidak perlu melakukan deklarasi, termasuk bagaimana caranya dapat menghindar dari Automatic Exchange of Information(pertukaran informasi) yang akan berlaku tahun 2018.


Namun besaran pajak itu sendiri tampaknya masih kurang menarik untuk dapat membujuk dana-dana masuk ke Indonesia tanpa ada sweetener tambahan. Seperti kita ketahui, bank-bank di luar negeri, termasuk di Singapura, kerap memberikan loan value atas obligasi dan saham yang dipegang oleh nasabah, dimana dana pinjamannya itu dapat dipakai untuk membeli obligasi dan saham yang baru.

Sebagai ilustrasi, misalkan ada aset orang Indonesia sebesar US juta dalam bentuk obligasi dengan kupon 5%. Misalkan nasabah mendapatkan loan value sebesar 50%, maka dari aset US juta dapat di leverage menjadi US juta.


Sementara kupon yang akan didapatkan adalah 5% untuk US juta pertama dan 5% dikurangi 1% biaya pinjaman atau sama dengan 4% untuk US juta sisanya. Artinya kupon yang akan didapat sekarang naik menjadi 9%. Tentu saja ilustrasi ini sangat sederhana, namun yang ditekankan di sini adalah bahwa nasabah akan mendapatkan kupon yang lebih besar dengan adanya loan value.


Di sinilah peran OJK sebagai pelengkap untuk dapat mensukseskan program pengampunan pajak, yaitu dengan memberikan dukungan kepada sektor perbankan untuk dapat membuat produk sejenis loan value yang dapat memberikan return yang lebih menarik.


Ini terkait dengan rencana bahwa dana repatriasi akan ditahan selama 3 tahun di beberapa bank dan manajemen investasi yang akan ditunjuk. Karena pada intinya, sebagai kompensasi dananya ditahan selama 3 tahun, maka pemilik dana dapat diberikan pemanis tambahan dalam bentuk likuiditas. Selain akan memberikan imbal hasil yang lebih menarik, produk loan value ini akan lebih menggairahkan sektor perbankan karena akan mendorong pertumbuhan kredit dan juga pendalaman sector keuangan (financial deepening).


OJK juga dapat mencari dan menghitung semua pinjaman perbankan domestik yang dijamin skema Standby Letter of Credit (SBLC). Dapat diduga bahwa semua pinjaman SBLC adalah dana orang Indonesia yang berada di luar negeri, yang artinya dananya tersebut sebagian sudah berada di Indonesia. Ilustrasi berikut dapat mempermudah pemahaman, misalkan ada dana sebesar US juta yang mendapatkan SBLC sebesar US0 ribu. Maka sejatinya  dana yang tersisa untuk dapat direpatriasi hanya sebesar US0 ribu.


Dari ulasan di atas, dapat dijadikan ilustrasi kasar bahwa potensi dana repatriasi akan lebih kecil dari yang diperkirakan oleh pemerintah karena sejatinya sebagian (kalau tidak mau dikatakan sebagian besar) sebenarnya sudah berada di Indonesia dalam berbagai bentuk aset keuangan.


Dalam hal ini kita tidak perlu lagi mempersoalkan berapa jumlah dana yang akan dideklarasi dan di repatriasi, karena ada hal yang lebih penting yaitu bagaimana memaksimalkan dana yang akan direpatriasi melalui upaya deklarasi sebesar-besarnya.


OJK sebagai pengawas institusi keuangan di Indonesia dapat mendukung pengembangan produk-produk keuangan yang lebih menarik yang akan mendorong kembalinya dana-dana orang Indonesia di luar negeri untuk masuk ke Indonesia. OJK dapat mengeluarkan aturan tambahan yang mendorong obligasi dan saham yang dideklarasi nantinya harus dikelola oleh perusahaan sekuritas nasional.


Artinya komisi dari transaksi yang selama ini dinikmati oleh sekuritas asing, dapat juga dinikmati oleh sekuritas lokal. Ini tentu saja akan lebih menggairahkan sektor keuangan dalam negeri.

Satu hal lain yang penting digali dari program pengampunan pajak ini adalah bagaimana menggali aset dari dalam negeri, karena porsi underground economy Indonesia masih cukup besar. Pemerintah sudah menyadari hal ini yang salah satunya ditunjukkan dengan upaya mendorong Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk mengikuti program ini.


Yang terpenting adalah bagaimana mendorong agar dana yang berputar di underground economy pada akhirnya dapat masuk atau tetap berada dalam sistem keuangan di Indonesia.


Di Amerika Serikat, underground economy diperkirakan mencapai 20% dari PDB. Dapat kita bayangkan bahwa Indonesia sebagai negara berkembang tentunya mempunyai persentase underground economy yang lebih besar, yang menurut penulis bisa jadi mencapai 40%-50% dari PDB. Ini merupakan potensi basis pajak yang sangat besar yang tentunya akan meningkatkan penerimaan pajak pemerintah di masa yang akan datang.

Dana underground economy ini sebagian sudah masuk dalam sistem perbankan dalam bentuk simpanan perorangan (tabungan maupun deposito). Simpanan perorangan diperkirakan mencapai 40% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) sistem perbankan, artinya dengan DPK yang mencapai lebih dari Rp4000 triliun, maka simpanan perorangan paling tidak mencapai Rp1.600 triliun, yang selama ini menikmati Undang-Undang Kerahasiaan Bank.

Mengingat potensi underground economy yang besar ini sebaiknya tidak dikeluarkan peraturan yang dapat menakut-nakuti mereka dan membuat mereka keluar dari sistem perbankan serta kembali menempatkan dana mereka di bawah bantal. 


Dengan sisa waktu yang sudah dekat dan periode pelaksanaan program Pengampunan Pajak yang hanya tersisa 6 bulan untuk tahun ini, maka masing-masing pemangku kebijakan perlu mempererat kerjasama untuk menjamin keberhasilan program ini. Dan selanjutnya institusi keuangan pasti akan mengikutinya. 

Sumber : bisnis.com (Jakarta, 21 Juni 2016)
Foto : bisnis.com




BERITA TERKAIT
 

Anggota DPR: Yang Dapat Pengampunan Adalah Mereka yang Telah Lakukan Kejahatan PajakAnggota DPR: Yang Dapat Pengampunan Adalah Mereka yang Telah Lakukan Kejahatan Pajak

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PPP, Arsul Sani menegaskan jika UU Tax Amnesty atau pengampunan pajak tidak mengampuni koruptor, kejahatan illegal logging, dan sebagainya.selengkapnya

Ingin Dapat Tax Amnesty? Ini Tarif Tebusan yang Harus DibayarIngin Dapat Tax Amnesty? Ini Tarif Tebusan yang Harus Dibayar

Rancangan Undang-Undang (RUU) Tax Amnesty atau pengampunan pajak saat ini masih dibahas oleh Kementerian Keuangan bersama Komisi XI DPR RI. Pembahasan RUU ini telah berada pada tahap Panitia Kerja (Panja) yang rencananya akan segera dibahas pada masa persidangan V tahun sidang 2015-2016.selengkapnya

Pajak yang Hendak Dihilangkan PT EK Prima Ekspor Indonesia Adalah PPn dan Bunga Tahun 2014-2015Pajak yang Hendak Dihilangkan PT EK Prima Ekspor Indonesia Adalah PPn dan Bunga Tahun 2014-2015

PT EK Prima Ekspor Indonesia memiliki surat tagihan pajak Rp 78 miliar.selengkapnya

Tarik Dana di Luar Negeri, Ini yang Ditawarkan JokowiTarik Dana di Luar Negeri, Ini yang Ditawarkan Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan pemerintah telah menyiapkan instrumen investasi untuk ditawarkan kepada yang mengikuti program pengampunan pajak (tax amnesty).selengkapnya

Yang Ditunggu Mazda Indonesia dari PemerintahYang Ditunggu Mazda Indonesia dari Pemerintah

Pertengahan 2015 lalu, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) meminta agar pemerintah bisa menurunkan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil jenis sedan. Hal ini dilakukan karena PPnBM sedan saat ini masih tergolong tinggi sehingga menyebabkan harga sedan menjadi mahal.selengkapnya

Ini Negara yang Paling Banyak Repatriasi AsetIni Negara yang Paling Banyak Repatriasi Aset

Direktur Jenderal Pajak (Dirjen) Kementerian Keuangan, Ken Dwijugiasteadi menyatakan tekadnya untuk mensukseskan tax amnesty. Dan hingga 5 September kemarin, data wajib pajak yang mendeklarasikan hartanya di luar negeri mencapai Rp30,4 triliun.selengkapnya

BERITA TERPOPULER


Istri Ingin Gabung NPWP Suami, Begini CaranyaIstri Ingin Gabung NPWP Suami, Begini Caranya

Pasangan suami-istri bisa memilih menjadi satu kesatuan dalam kewajiban pajak atau sebagai satu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bila sebelumnya istri sudah memiliki NPWP, maka harus dihapuskan dan dialihkan ke suami. Bagaimana caranya?selengkapnya

Ikut Tax Amnesty, Balik Nama Aset Tanah dan Saham Bebas PajakIkut Tax Amnesty, Balik Nama Aset Tanah dan Saham Bebas Pajak

Selain lolos dari sanksi pidana pajak, Wajib Pajak (WP) peserta Program Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) akan diberikan fasilitas pembebasan pajak penghasilan (PPh) oleh pemerintah. Insentif ini dapat diperoleh jika pemohon melakukan balik nama atas harta berupa saham dan harta tidak bergerak, seperti tanah dan bangunan.selengkapnya

Pilih Ikut Tax Amnesty atau Pembetulan SPT?Pilih Ikut Tax Amnesty atau Pembetulan SPT?

Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak, Ken Dwijugiasteadi menegaskan, program pengampunan pajak (tax amnesty) bukan merupakan kewajiban bagi setiap Wajib Pajak (WP). WP berhak untuk memilih pembetulan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) dengan aturan main yang berbeda, salah satunya mengenai pengusutan nilai wajar harta.selengkapnya

Ini Sanksi Bagi yang Tak Laporkan Harta saat Ikut Tax AmnestyIni Sanksi Bagi yang Tak Laporkan Harta saat Ikut Tax Amnesty

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro sudah menyiapkan sanksi tegas bagi wajib pajak yang tidak melaporkan harta dan asetnya secara benar saat mendaftarkan diri dalam pengampunan pajak (tax amnesty).selengkapnya

Ini Denda bagi yang Terlambat Lapor SPT PajakIni Denda bagi yang Terlambat Lapor SPT Pajak

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) mengingatkan para Wajib Pajak untuk melaporkan Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan (SPT PPh) Tahunan 2016 hingga batas waktu 31 Maret untuk Orang Pribadi (OP) dan Badan Usaha 30 April. Jika terlambat akan ada denda yang dikenakan.selengkapnya



KATEGORI BERITA :




BERITA TERBARU :


Kemenkeu Mau Pungut Pajak Pengguna Medsos & Jalan TolKemenkeu Mau Pungut Pajak Pengguna Medsos & Jalan Tol

Staf Ahli Menteri Keuangan bidang Pengawasan Pajak Suryo Utomo memastikan kajian untuk menarik pajak medsos artis terus dimatangkan. "Kita sedang buat konsep pajaknya. Kita harapkan ini bisa meningkatkan kepatuhan dan penerimaan," kata Suryo di Jakarta, kemarin.selengkapnya

Amnesti Periode Tiga, Fokus Perluas Basis PajakAmnesti Periode Tiga, Fokus Perluas Basis Pajak

Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) Kementerian Keuangan fokus untuk memperluas basis pajak pada periode ketiga pelaksanaan program amnesti pajak. Masyarakat diimbau agar segera memanfaatkan amnesti pajak lantaran program ini berakhir 2,5 bulan lagi.selengkapnya

Ditjen Pajak: NPWP Bisa Jadi Kartu BPJS hingga SIMDitjen Pajak: NPWP Bisa Jadi Kartu BPJS hingga SIM

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) telah menyiapkan satu kartu multi fungsi yang dapat digabungkan dengan kartu lainnya, mulai dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), kartu kredit, hingga Surat Izin Mengemudi (SIM). Kartu ini rencananya akan meluncur pada Maret 2017.selengkapnya

Penerimaan Pajak 2016 Capai 80 Persen, Misbakhun: Terendah dalam SejarahPenerimaan Pajak 2016 Capai 80 Persen, Misbakhun: Terendah dalam Sejarah

Anggota Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun mengatakan penerimaan pajak tahun 2015-2016 hanya berkisar 80 persen dari target yang telah dicanangkan. Realisasi penerimaan pajak ini dinilainya sebagai yang terendah dalam 10 tahun terakhir.selengkapnya

Agar Tak Kena Sanksi, WP Diimbau Ikut Tax Amnesty Periode IIIAgar Tak Kena Sanksi, WP Diimbau Ikut Tax Amnesty Periode III

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mengimbau wajib pajak (WP) yang belum melaksanakan kewajiban perpajakan dengan benar untuk ikut program amnesti pajak periode tiga.selengkapnya

SENTIMEN PASAR 18 JANUARI: Soroti Perpanjangan Kontrak ONWJ & Penerimaan PajakSENTIMEN PASAR 18 JANUARI: Soroti Perpanjangan Kontrak ONWJ & Penerimaan Pajak

Sejumlah berita dari dalam negeri menjadi perhatian pasar pada perdagangan hari ini, Rabu (18/1/2017).selengkapnya

Periode III Tax Amnesty, DJP akan Garap Wajib Pajak PeroranganPeriode III Tax Amnesty, DJP akan Garap Wajib Pajak Perorangan

Periode III tax amnesty akan berakhir 31 Maret 2017 mendatang. Direktorat Jendral Pajak akan memfokuskan periode terakhir ini untuk menggenjot keterlibatan UMKM dan menyasar pada para Wajib Pajak Perorangan dengan bekerja sama dengan perbankan.selengkapnya

DJP imbau WP ikut amnesti periode tigaDJP imbau WP ikut amnesti periode tiga

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menghimbau kepada Wajib Pajak (WP) yang belum melaksanakan kewajiban perpajakan dengan benar untuk ikut program amnesti pajak periode tiga.selengkapnya

Pemerintah Optimalkan Tax Amnesty Demi Genjot Penerimaan PajakPemerintah Optimalkan Tax Amnesty Demi Genjot Penerimaan Pajak

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memiliki sejumlah strategi untuk menggenjot penerimaan pajak di tahun 2017. Strategi ini berbasis pada Program Pengampunan Pajak atau tax amnesty yang berlangsung pada tahun 2016-2017.selengkapnya

DJP Gunakan Data tax amnesty untuk Sisir Wajib PajakDJP Gunakan Data tax amnesty untuk Sisir Wajib Pajak

Pemerintah dalam APBN 2017 telah menetapkan penerimaan perpajakan tahun ini sebesar Rp1.498,87 triliun. Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan yang mendapatkan mandat mengejar target itu pun mengaku telah memiliki strategi.selengkapnya



 
TAGS # :